Blogger Widgets Blogger Widgets

Rabu, 26 Februari 2014

bahaya rokok alkohol dan narkoba

Rokok, Alkohol dan Narkoba Gerogoti

Penduduk Usia Produktif


Berita Lainnya
Jakarta, Bahaya kesehatan yang diakibatkan oleh rokok, alkohol dan narkoba memang sudah diketahui oleh banyak orang. Rokok contohnya, tidak hanya menyebabkan penyakit jantung dan paru-paru, namun juga bisa menyerang sistem saraf otak yang bisa mengakibatkan depresi dan dementia. Namun tahukah Anda bahwa rokok, alkohol dan narkoba juga mengancam perekonomian Indonesia?

Ya, akibat yang ditimbulkan oleh rokok memang sangat besar. Rokok selain berbahaya bagi kesehatan juga mengancam bonus demografi Indonesia. Bonus demografi adalah keadaan di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar daripada jumlah penduduk usia non-produktif.

Berdasarkan data yang dimiliki BKKBN, persentase penduduk usia produktif (15-64 tahun) ada dia angka 44,98 persen. Namun angka tersebut akan menjadi percuma jika penduduk usia produktif Indonesia masih merokok.

"Jika merokok, maka penduduk usia produktif akan tidak maksimal karena sakit-sakitan akibat rokok," ujar Dr. Kartono Muhamad, Ketua Komnas Pengendalian Tembakau ketika ditemui detikHealth pada acara konferensi pers NGO Summit on the Prevention of Drugs, Tobacco, and Alcohol Abuse di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (27/2/2014).

Hal senada juga disampaikan oleh dr Sudibyo Markus dari Bagian Kerjasama Luar Negeri PP Muhammadiyah. Ia mengatakan bahwa jika tren merokok pada usia produktif terus berlanjut, dikhawatirkan tenaga kerja Indonesia akan kalah oleh negara-negara lain.

"Yang rugi kan nanti Indonesia sendiri. Kalau mau tenaga kerja murah, kita kalah sama Bangladesh. Kalau banyak-banyakan kalah sama India," paparnya pada kesempatan yang sama.

Untuk itu, NGO Summit yang dilaksanakan di Yogyakarta 4-6 Februari lalu mendesak pemerintah untuk segera meratifikasi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC) yang digagas oleh WHO. Hal ini dikarenakan karena hanya Indonesia sajalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang belum meratifikasi FCTC meski sudah dua kali setuju untuk segera menandatanganinya.

"Pemerintah harus tegas. Jangan mau kalah sama lobi yang dilakukan oleh industri rokok," pungkas dr Sudibyo.

Jumat, 07 Februari 2014

 KISAH PEMANCNG CILIK


Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat menikmati permainannya.

Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.

Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.

"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.

"Lo, paman perhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang paman tawarkan kepadamu, kenapa engkau tolak?"

"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.

"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"



Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.

Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.

Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"

Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar anakku, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."